In Harmonia Progressio LDK

***tulisan ini merupaka salah satu tulisan dalam buku “Sketsa LDK Mandiri” yang akan terbit bulan Maret 2011, insya Allah***

Bagaimana membangun sinergisasi antara Lembaga Dakwah Kampus Pusat dengan Lembaga Dakwah Fakultas/ Wilayah?

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Ikhwahfillah, terlebih dahulu mari kita bersyukur bagi kita LDK yang memiliki jejaring dan “perpanjangan tangan” melalui LDF (Lembaga Dakwah Fakultas) atau LDPS (Lembaga Dakwah Program Studi). Karena pada dasarnya, jejaring LDF dan LDPS (di GAMAIS diistilahkan dengan nama LDW atau Lembaga Dakwah Wilayah) merupakan sebuah potensi yang luar biasa besar dalam membuat metode dan agenda dakwah kita yang -tidak hanya besar, namun juga- menyebar dan mengakar.

Sudah tabiatnya, dakwah akan menjadi efektif jika cara penyampaiannya mencoba menyesuaikan dengan kondisi objek dakwahnya. Oleh karena itulah kita diperintahkan untuk berdakwah sesuai dengan “bahasa” objek dakwah. Lebih khusus dalam dunia dakwah kampus, “bahasa” bisa kita gambarkan dengan minat, bakat, kecenderungan, karakter, dan kebiasaan lainnya yang ada pada komunitas objek dakwah.

Contoh kasus yang sangat baik misalnya, di sebuah LDK, salah satu LDFnya bernama LDFITB (Lembaga Dakwah Fakultas Ilmu Tanah dan Kebumian). Pada tahun 2010 kemarin, mereka senantiasa mencoba untuk mencitrakan bahwa menjadi kader LDK berarti juga menjadi kader LDF, dan sebaliknya. Alhamdulillah, dengan izin Allah, awalnya muslim di FITB yang mendaftar LDK secara terpusat berjumlah sekitar 50%. Namun setelah dilakukan rekrutmen tahap II (di fakultas) beberapa hari setelahnya, muslim yang mendaftar menjadi kader LDK berjumlah sekitar 80%!!! Subhanallah, begitulah memang, LDP dan LDF memiliki daya tariknya masing-masing yang harus sama-sama dioptimalkan.

Continue reading

Advertisements
Posted in Koordinasi LDP-LDF | 2 Comments

Pembentukan Tim

Assalamu’alaykum wr wb

Mencari sebuah tim bukanlah perkara mudah dan tidak bisa dipermudah begitu saja. Layaknya bangunan, perlu adanya keseriuasan dalam menentukan struktur, konstruksi, dan bahannya. Semua syarat dan ketentuannya berlaku.

1. Pilih bahan terbaik.

Yang paling bagus adalah yang ruhiyyahnya paling baik. Apalagi dalam organisasi dakwah.
Ruhiyyah kita dan ketaqwaan kita adalah modal untuk menjalankan perjuangan dakwah fii sabilillah.
Seleksi calon yang akan kita ajak menjadi tim dengan penjagaan amalan yaumiyahnya. Kemudian, tetap terus ingatkan mereka untuk jaga amalannya.

Continue reading

Posted in Kaderisasi | 1 Comment

key performance indicator

sumber: http://rezaprimawanhudrita.wordpress.com/2010/06/17/jurnal-key-performance-indicator/

sedikit ilmu keorganisasian dari anak TI, yaitu tentang key performance indicator (KPI)

KPI adalah suatu pengukuran kuantitatif, telah disetujui sebelumnya, dan mencerminkan faktor penentu keberhasilan suatu organisasi. jadi, KPI membantu sebuah organisasi dalam menentukan dan mengukur kemajuannya hingga sampai kepada tujuan organisasi yang telah disepakati di awal.

nah, lalu apa KPI-nya MuSA?
yuk, kita lihat lagi visi MuSA di kepengurusan kali ini: “Keluarga yang Dekat, Kreatif, Bermanfaat, dan Sinergis bagi Semuanya”
saya kira ujung-ujungnya akan berakhir di mentoring dan kaderisasi

kenapa?
karena dengan bertambahnya peserta mentoring dan makin banyaknya kader yang dicetak oleh MuSA, menandakan bahwa MuSA telah menjadi keluarga yang dekat, kreatif, bermartabat, dan sinergis.
Continue reading

Posted in Manajemen Organisasi dan Kepanitiaan | Leave a comment

MEMBANGUN LEMBAGA DAKWAH YANG KREATIF DAN INOVATIF

sumber: http://adjiewicaksana.wordpress.com/2010/02/23/membangun-lembaga-dakwah-yang-kreatif-dan-inovatif/

Pada dasarnya, dakwah kita adalah sama: mengajak manusia kepada Allah, dengan hikmah dan nasihat yang baik, sehingga mereka mengingkari thagut dan beriman kepada Allah, agar keluar dari kegelapan jahilliyah menuju cahaya islam. Insya Allah, dakwah yang kita usahakan adalah sama dengan dakwah yang diemban para rasul-rasul Allah. Inilah pondasi kita, dasar kita, yang tidak boleh lepas dari kita walau sebesar apapun perubahan yang muncul di dalam lembaga dakwah kita.

Namun saat ini, mungkin seringkali kita mempertanyakan, mengapa sangat sulit untuk mengajak teman-teman kita di kampus untuk mengikuti acara-acara keislaman yang kita adakan (misal: ta’lim atau mentoring), yang bertujuan untuk dakwah tadi? Apakah ada yang salah dengan dakwah itu sendiri sehingga tidak cukup “menarik” bagi kawan-kawan kita?

Sebelumnya, saya ingin sedikit bercerita tentang pengalaman GAMAIS ITB dalam hal rekrutmen kader. Pada tahun 2004 dan sebelumnya, kader yang mendaftar GAMAIS tidaklah banyak. Setiap tahunnya sangat minim, bahkan salah seorang kader GAMAIS angkatan 2004 pernah bercerita, di pertemuan kader pertama angkatannya, yang hadir hanyalah 5 orang, yang memang dapat dikatakan sudah menjadi aktivis dakwah sejak di sekolahnya (ADS).

Continue reading

Posted in Manajemen Organisasi dan Kepanitiaan, Syiar dan Pelayanan Kampus | Leave a comment

memulai sebuah lembaga dakwah kampus

sumber: http://ridwansyahyusufachmad.wordpress.com/2010/07/20/memulai-sebuah-lembaga-dakwah-kampus/

Perkembangan LDK di Indonesia yang semakin pesat seiring waktu menandakan pula perkembangan minat KeIslaman di kalangan terpelajar yakni mahasiswa. Tercatat sudah lebih dari 800 LDK yang tersebar di seantero Nusantara dan telah memberikan warna tersendiri dalam perkembangan Islam.  Dalam pertemuan FSLDK XV di Universitas Pattimura Ambon silam, tercatat lebih dari 500 peserta dari berbagai penjuru tanah air, dengan peserta yang lumayan signifikan jumlahnya dari Indonesia bagian timur seperti Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Pada bagian awal buku  ini, saya akan memulai dengan sebuah tips sederhana bagaimana seorang aktivis dakwah di sebuah kampus memulai mendirikan LDK dari awal. Dalam kondisi dimana ia belum mengetahui medan kampus dan belum banyak memiliki sahabat seperjuangan yang akan bergerak bersama. Kondisi seperti ini sangat sering terjadi di kampus yang belum tersentuh oleh dakwah kampus, dan tentunya menjadi sebuah tanggung jawab bagi seorang yang memahami dakwah di sebuah kampus tersebut untuk memulai lahirnya embrio LDK.

Ada enam langkah perdana yang bisa dilakukan untuk memulai sebuah LDK. Enam langkah sederhana yang bisa dijalankan dengan bekal keyakinan dan konsistensi dalam berjuang.

Membentuk Kelompok Inisiator Awal LDK

Continue reading

Posted in Manajemen Organisasi dan Kepanitiaan | 3 Comments

menjadi mentor idaman

sumber: http://ridwansyahyusufachmad.wordpress.com/2010/07/20/menjadi-mentor-idaman-2/

Mentoring adalah salah satu bentuk kaderisasi dua arah yang bisa digunakan untuk meningkatkan kemampuan da’iyah seorang kader. Pada saat seseorang menyampaikan materi, secara tidak langsung ia juga belajar untuk memahami kembali materi yang ada. Orang bijak pernah berkata, ketika Anda bisa mengajarkan sesuatu kepada orang lain, maka Anda berarti telah memahami sesuatu. Saya sangat sepakat dengan statement ini, dimana seseorang yang menjadi mentor tentu akan menyiapkan dirinya dengan baik.

Proses kaderisasi dua arah ini sangat diharapkan dapat dilakukan oleh semua kader, bagaimana seorang kader dakwah bisa melakukan aktifitas tarbiyah dan dakwah secara bersamaan. Oleh karenanya dibutuhkan pelatihan dan kesempatan untuk mempraktikan menjadi mentor sejak dini dan berkelanjutan.

Dalam beberapa kesempatan saya memberikan materi pada diklat mentor pada beberapa kampus atau SMU, saya menemukan masalah yang kerap ditemukan oleh para mentor pemula. Permasalahan ini seputar, ketidakpahaman materi, kemampuan komunikasi yang terbatas, kepercayaan diri, serta kekhawatiran tidak bisa menjadi mentor yang amanah. Dan, yang membuat saya bingung adalah, kenapa semua alasan ini sering dijadikan sebuah alasan untuk tidak mau menjadi mentor. Penundaan kesiapan ini justru membuatnya tidak menjadi mentor untuk selamanya karena tidak urung memulai.

Continue reading

Posted in Mentoring | Leave a comment

Menjadi aktivis dakwah kampus prestatif

sumber: http://ridwansyahyusufachmad.wordpress.com/2010/07/20/menjadi-aktivis-dakwah-kampus-prestatif/

“Dakwah dinamis , akademik optimis”, jargon ini menjadi sebuah keyakinan yang saya terapkan pada pikiran saya selama di kampus. Semua ini bermula ketika pada tingkat pertama kuliah saya di ajarkan oleh mentor saya untuk menjadi sosok “teladan ekstrim”. Maksudnya adalah bagaimana seorang kader dakwah benar benar bisa menjadi teladan yang mendekati ideal karena dakwah kampus membutuhkan banyak sosok seperti itu untuk menunjang pergerakanya. Sehingga saat itu saya meniatkan diri untuk menjadi sosok teladan ekstrim.

Teladan ekstrim ini saya coba turunkan menjadi beberapa indikator, antara lain :

  1. Bergerak berdakwah tiada henti (kader non-stop hits)
  2. Mendapatkan Indeks Pretasi (IP) terancam cumlaude
  3. Dipercaya sebagai pemimpin di antara masyarakat kampus yang heterogen
  4. Memiliki pribadi yang baik dan diterima oleh semua kalangan
  5. Memiliki karya tulis yang bisa menjadi inspirasi banyak kader
  6. Membuka kesempatan untuk berbicara dan menginspirasi banyak orang

Bisa jadi indikator ini bertambah tergantung kapasitas setiap individu, akan tetapi  untuk saya enam indikator ini saya niatkan untuk bisa dijalankan selama menjalani kehidupan di dunia kampus. Titik tekan yang saya coba berikan sesuai dengan jargon di awal “dakwah dinamis, akademik optimis”. Saya ingin mematahkan pandangan bahwa ketika seseorang bergelut dalam dunia dakwah kampus secara total maka ia tidak bisa mendapatkan prestasi akademik yang baik.

Continue reading

Posted in Kaderisasi | Leave a comment